
Jakarta, cache-lefilm Indonesia
—
Di tengah hiruk-pikuk
Paris Couture Week
, perhatian tidak hanya tertuju pada gaun-gaun adibusana. Di Place Vendôme, alun-alun di jantung Kota
Paris
yang selama lebih dari satu abad menjadi pusat industri
perhiasan
paling prestisius di dunia, Mikimoto memperkenalkan koleksi
high jewellery
terbarunya, L’éclat.
Koleksi ini menjadi sebuah penghormatan terhadap mutiara dan sejarah panjang rumah perhiasan asal Jepang tersebut, sekaligus perjalanan inovasi yang mengubah industri perhiasan dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koleksi
high jewellery
terbaru ini mengangkat cahaya sebagai sumber inspirasi. Sesuai namanya, L’éclat, yang berarti ‘kilau’, Mikimoto mengeksplorasi bagaimana cahaya dipantulkan oleh permukaan mutiara, menghasilkan gradasi warna yang lembut sekaligus dramatis.
Pemilihan Place Vendôme bukanlah sebuah kebetulan. Kawasan ini dikenal sebagai rumah bagi sejumlah
maison
perhiasan paling bergengsi di dunia, mulai dari Cartier hingga Van Cleef & Arpels. Kehadiran Mikimoto di Place Vendôme juga menunjukkan bahwa warisan mutiara Jepang kini berdiri sejajar dengan jenama
high jewellery
Eropa yang telah lama mendominasi industri ini.
Kalung utama dalam koleksi ini memadukan White South Sea
cultured pearls
dengan tourmaline hijau, zamrud, dan safir biru. Kontras antara putih mutiara dan spektrum warna batu mulia menciptakan permainan cahaya yang terus berubah ketika dikenakan.
Eksplorasi tersebut berlanjut pada kalung dan anting dengan komposisi geometris yang memanfaatkan berlian dalam berbagai potongan. Garis-garis tegas dipadukan dengan lengkungan lembut sehingga menghasilkan ritme visual yang menggambarkan penyebaran cahaya.
Pada rancangan lain, spiral berlian berpadu dengan gradasi biru dan putih. Ada juga sebuah
head jewellery
yang terinspirasi gugusan galaksi mengikuti kontur kepala hingga garis rambut. Hal ini menunjukkan presisi pengerjaan yang menjadi ciri khas rumah perhiasan Mikimoto.
Namun, kekuatan utama Mikimoto tetap berada pada mutiaranya. Warisan tersebut berakar pada sosok Kokichi Mikimoto yang pada 1893 berhasil menciptakan mutiara budidaya pertama di dunia. Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perhiasan karena sebelumnya, mutiara alami merupakan komoditas yang sangat langka. Di alam liar, kurang dari satu dari seribu tiram mampu menghasilkan mutiara selama hidupnya, menjadikannya hanya dapat dimiliki kalangan bangsawan.
Melalui teknik budidaya yang dikembangkannya, Kokichi Mikimoto berhasil menghasilkan mutiara dengan kualitas tinggi secara berkelanjutan tanpa menghilangkan keindahan alaminya. Cita-cita Mikimoto juga sederhana, namun visioner:
“Impian saya adalah menghiasi leher seluruh perempuan di dunia dengan mutiara.”
Proses menghasilkan mutiara berkualitas tinggi pun tidak berlangsung singkat. Dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk membesarkan tiram hingga siap menjalani proses implantasi inti mutiara.
Setelah itu, tiram dikembalikan ke laut dengan arus yang stabil agar lapisan nacre dapat terbentuk secara perlahan. Selama musim dingin, metabolisme tiram melambat sehingga lapisan nacre tumbuh lebih rapat dan menghasilkan kilau yang lebih kaya.
Ketika masa panen tiba, setiap mutiara diambil secara manual sebelum disortir berdasarkan ukuran, bentuk, warna, dan terutama lustre, pantulan cahaya yang menjadi penentu kualitas tertinggi sebuah mutiara.
Mikimoto menggunakan berbagai jenis mutiara budidaya, termasuk Akoya yang menjadi kebanggaan Jepang karena dikenal memiliki kilau tajam, serta White South Sea
pearls
yang berukuran lebih besar dan berasal dari tiram bibir perak di perairan Australia, Indonesia, Filipina, dan Myanmar. Hanya mutiara Akoya dengan kualitas dan kilau terbaik yang berhak menyandang nama ‘Mikimoto Pearl’.
Pada tahun 1927, selama tur di Amerika Serikat dan Eropa, inovasi Kokichi Mikimoto bahkan mendapat pengakuan dari Thomas Edison yang menyebut penemuan tersebut sebagai ‘salah satu keajaiban dunia’ karena berhasil mewujudkan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil secara biologis.
Kini, semangat inovasi itu diterjemahkan dalam koleksi yang hanya diproduksi sekali setiap tahun.
“Mikimoto hanya membuat satu koleksi
high jewellery
setiap tahun. Koleksi dengan tingkat keahlian seperti ini membutuhkan waktu agar setiap karya mencapai kualitas setinggi mungkin,” jelas Presiden Mikimoto Thailand, Yoshiro Sasaki saat presentasi berlangsung.
Presentasi L’éclat juga dihadiri duta merek global Mikimoto, James Jirayu Tangsrisuk, yang menguatkan citra internasional
maison
tersebut di hadapan para tamu Paris Couture Week.
Melalui L’éclat, Mikimoto tidak sekadar memamerkan keindahan mutiara. Koleksi ini menunjukkan bagaimana inovasi ilmiah, penguasaan teknik selama lebih dari satu abad, dan keterampilan para perajin berpadu menjadi karya yang menempatkan
maison
asal Jepang tersebut sebagai salah satu pemain penting di jantung dunia
high jewellery
di Place Vendôme.
(asr/asr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Momen Langka Dua Bunga Bangkai Mekar Bersamaan di Los Angeles
Baca lagi: Menkop Respons soal Kopdes Merah Putih Melawai Cuma Untung Rp78 Ribu
Baca lagi: Iran Bombardir Pangkalan Udara AS di Yordania Pakai Rudal Kheibar




2 Responses
Menarik banget pembahasannya, sukses nambah wawasan saya hari ini. Tadi pas browsing saya juga dapet info komprehensif yang mirip-mirip di https://kldp.org/comment/257893, lumayan buat pelengkap.
Wah, tulisannya daging semua nih. Makasih sharing-nya min! Btw kalau ada yang mau cari referensi tambahan, cek aja di https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=290513 karena mirip-mirip pembahasannya.