Seni Menjadi Orang Tua di Era Digital, Tak Membatasi tapi Beradaptasi

Jakarta, cache-lefilm Indonesia

Kemajuan dunia digital ternyata tak membawa kabar baik bagi semua

orang tua

. Gawai dan berbagai

platform

hiburan di dalamnya sering kali dianggap musuh karena mencuri perhatian

anak

.

Namun perlu diakui, teknologi digital sudah sangat melebur dalam kehidupan sehari-hari. Sejak pandemi Covid-19, berbagai lembaga pendidikan sudah mulai intens memanfaatkan dunia digital untuk kegiatan belajar mengajar, bahkan kini ada pula sekolah

online

.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang tua sendiri juga tak bisa lepas dari gawai, baik itu digunakan untuk komunikasi, belanja, hiburan, hingga bekerja. Pada kondisi era digital dengan segala keterhubungannya yang sudah melekat di kehidupan sehari-hari, pertanyaan selanjutnya: masih relevankah membatasi anak dalam penggunaan gawai, atau kini saatnya untuk beradaptasi?

Saatnya orang tua beradaptasi

Ada orang tua yang cenderung membatasi

screen time

anak karena takut gawai dapat merusak kehidupan sosial anak. Ada pula yang menggunakan aplikasi atau alat

parental control

agar anak tidak sembarangan menonton konten.

Namun, benarkah membatasi

screen time

anak menjadi satu-satunya cara untuk mengatasinya? Apakah pembatasan masih relevan dilakukan?

Association Professor sekaligus Pengajar di Fakultas Pendidikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Charyna Ayu, berpendapat pembatasan tersebut sudah tak relevan lagi. Memiliki latar belakang psikologi perkembangan dengan kepakaran di bidang empati dan well being anak, remaja, serta siswa, Charyna menggunakan kerangka berpikir ekologi dari Urie Bronfenbrenner.

“Teknologi itu sebetulnya sekarang sudah benar melekat dan menyatu di setiap lapisan kehidupan anak. Sudah tidak bisa dipisahkan dari hubungan keluarga sehari-hari, interaksi rumah-sekolah lewat layar,” ujar Charyna kepada

cache-lefilmIndonesia.com

saat ditemui di kampus UIII, Depok, Selasa (7/7).

Teori ekologi Bronfenbrenner sendiri berbicara tentang perkembangan seseorang muncul dari sistem lingkungan yang saling terhubung, mulai dari keluarga hingga tingkat masyarakat, budaya, dan perubahan lingkungan yang lebih besar. Setidaknya ada lima sistem ekologi, mulai dari yang paling terdekat hingga terjauh, yakni mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem.

Kemunculan teknologi informasi, internet, hingga media sosial bisa terjadi di tingkatan kronosistem, termasuk pandemi. Contoh nyata yang terjadi, yakni saat anak harus belajar di rumah dengan mengandalkan gawai akibat pandemi Covid-19.

Namun, teknologi juga bisa memengaruhi eksosistem. Misalnya, kebijakan kantor orang tua yang memperbolehkan bekerja dari rumah, mengubah hubungan orang tua dengan anak, termasuk anak dengan teknologi. Anak akan belajar dari orang tua mengenai kebiasaan menggunakan gawai untuk bekerja.

Dari gambaran ini, teknologi digital sudah menyatu di setiap lapisan kehidupan anak, sehingga tak relevan lagi jika penggunaannya dibatasi. Lagi pula, lanjut Charyna, banyak penelitian yang menunjukkan hubungan antara

screen time

dan

well being

anak tak selalu berbanding lurus.

“Dia [teknologi informasi] sudah masuk ke setiap lini, sudah membentuk pola anak itu sendiri, termasuk juga orang tua,” ucap Charyna.

Ia menambahkan, desain algoritma platform juga bisa diam-diam membentuk apa yang kita lihat dan persepsikan. Akhirnya, memengaruhi pula norma budaya generasi tertentu soal bagaimana menjadi orang tua.

Adaptasi menjadi salah satu kunci di era digital ini. Namun, adaptasi bukan berarti sepenuhnya melepas anak ‘bermain’ dengan gawainya tanpa keterlibatan orang tua.

Generasi orang tua panik

Saat ini, peran orang tua banyak diemban oleh generasi X dan generasi milenial. Mereka adalah orang-orang yang mengalami transisi teknologi dari analog ke digital. Charyna memandang, generasi milenial mengalami ‘panik’ ketika menjadi orang tua.

“Satu hal yang saya catat, ya, kalau paradigma

screen time

ini lahir dari kecemasan generasi yang sebetulnya juga masih belajar. Masih meraba-raba, ini apa

sih

,” ucap Charyna.

Sebagai generasi yang mengalami masa transisi teknologi, orang tua masih bingung sekaligus mengalami euforia serupa dengan anaknya yang baru mengenal teknologi. Fenomena

sharenting

atau membagikan konten anak tanpa

consent

, misalnya, menjadi salah satu bentuk euforia yang dialami orang tua ketika baru berkenalan dengan media sosial.

Hal ini, menurut Charyna, terjadi karena generasi orang tua tak terlatih untuk menggunakan gawai secara sehat. Tak seperti anak-anaknya yang mendapat edukasi khusus mengenai penggunaan gawai melalui pendidikan formal. Mau tak mau, orang tua belajar secara otodidak.

“Jadi, kita jangan malu mengakui bahwa kita juga sama-sama belajar, seperti anak kita. Artinya, kita punya ruang atau zona yang perlu kita eksplorasi bareng,” ucap Charyna.

Alih-alih panik dengan membatasi gerak-gerik anak di dunia digital, orang tua perlu beralih ke sudut pandang baru. Misalnya, ketimbang menekankan aspek durasi pada

screen time

, lebih baik memperhatikan apa yang ‘hilang’ ketika anak sedang asyik menggunakan gawai.

Screen time

ini sudah menggantikan apa? Aktivitas anak yang apa? Misalnya, kalau waktunya tidur tergantikan oleh

screen time

, itu bermasalah,” kata Charyna.

Tak hanya waktu tidur. Jika aktivitas

screen time

sudah menggantikan aktivitas lain, termasuk hubungan dengan orang tua, pada saat itulah orang tua bisa turun tangan. Bukan untuk membatasi, tetapi mendampingi dan mengarahkan agar penggunaan gawai anak menjadi sesuatu yang positif.

Selama anak masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal, menurut Charyna, tak ada yang perlu orang tua khawatirkan.

“Jadi, kita melihat dari perubahan perilaku anak saja. Selagi dia masih bisa melakukan aktivitasnya dengan baik, nilai di sekolahnya masih baik, dia masih melakukan hobinya dengan baik, saya pikir itu indikator yang paling sederhana,” tuturnya.

Simak penjelasan selengkapnya di halaman berikutnya..

Screen time vs screen quality

Gawai

dan

screen time

yang menyertainya memang tak bisa dihindari. Jika hendak beradaptasi dengan teknologi ini, setidaknya orang tua bisa mencari cara bagaimana mendapat benefit darinya.

Dari sini, muncul istilah

screen quality

yang mengedepankan kualitas, baik dari sisi konten maupun konteks. Terkait konten, Charyna mengatakan ada dua tipe konsumsi konten, yakni pasif-konsumtif dan edukatif-kreatif.

Menonton konten di media sosial tanpa adanya

output

tindakan atau berujung pada belanja bisa digolongkan sebagai pasif-konsumtif. Adapun pola konsumsi edukatif-kreatif bisa mendorong seseorang untuk berpikir. Misalnya, anak yang suka musik, akan menggunakan gawai untuk eksplorasi dan belajar lebih jauh menggunakan instrumen musik.

“Itu konten. Kalau konteks, bisa juga

screen quality

dilihat dari anak ini lebih banyak nonton sendirian atau misalnya ada teman nonton, seperti orang tua,” kata Charyna.

Jika kegiatan

screen time

yang dilakukan anak bersama orang tua bisa memantik dialog, diskusi, atau bentuk interaksi lainnya yang bermanfaat, ini juga bisa digolongkan sebagai

screen quality

.

Di sini, orang tua yang sama-sama baru ‘belajar’ teknologi, bisa menjadi pendamping untuk sama-sama mengeksplorasi dunia digital sambil memantau konten apa yang dikonsumsi anak.

[Gambas:Photo cache-lefilm]

Peran orang tua sebagai pendamping

Merujuk kembali teori ekologi Bronfenbrenner, teknologi informasi menjadi sesuatu yang sudah tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Artinya, orang tua juga perlu terlibat dalam penggunaan gawai anak, entah itu menonton atau bermain bersama. Perannya bukan lagi sebagai

gatekeeper

.

“Anak juga harus kita berikan suatu keyakinan bahwa dunia digital itu adalah ruang yang bisa dieksplorasi bareng-bareng. Jadi, bukan suatu wilayah yang anak itu merasa sedang diawasi,” kata Charyna.

Melarang atau membatasi anak secara kaku dalam menggunakan gawai justru bisa membuat anak makin penasaran dengan hal yang dilarang orang tuanya. Apalagi dalam masa perkembangan, anak juga mulai berpikir kritis.

Anak bisa mulai mempertanyakan aturan yang diberikan orang tua. Selain itu, anak mulai membandingkan diri dengan teman sebayanya yang mungkin saja lebih dibebaskan dalam penggunaan gawai.

Orang tua perlu bisa memberikan argumentasi dan pemahaman logis terkait aturan yang mereka berikan terkait penggunaan gawai dan apa yang bisa didapat dari aktivitas

screen time

. Memang tak mudah meyakinkan anak untuk menerima argumen, sehingga ada masanya orang tua perlu berkompromi.

“Ada hal-hal yang memang harus dikompromikan, sehingga anak tahu posisi dia penting untuk dilihat juga pendapatnya,” ucap Charyna.

Meski pada akhirnya keputusan tetap di tangan orang tua, setidaknya ada keinginan anak yang diupayakan oleh orang tua.

“Sesuatu yang saya pikir semua anak ketika dia menjadi orang tua nanti, dia akan berkaca bagaimana orang tuanya dulu mengupayakan dia,” kata Charyna lagi. Dan inilah hasil ‘indah’ dari orang tua yang mau beradaptasi.

Add

as a preferred

source on Google

Mengenal Screen Quality dan Peran Baru Orang Tua di Era Digital

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Zhang Xiaofei Digosipkan Tak Ambil Bayaran Main Kung Fu Soccer

Baca lagi: Presiden Iran Umumkan Perang Total sampai China-Filipina Clash di LCS

Baca lagi: FOTO: Melihat Pameran Jakarta Provoke! 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: