
Daftar Isi
Apakah alergi bisa sembuh?
Mengapa alergi bisa terjadi?
Cara mengurangi risiko alergi kambuh
Jakarta, cache-lefilm Indonesia
—
Banyak yang bertanya-tanya, apakah
alergi
bisa sembuh sepenuhnya? Pertanyaan ini sering muncul karena gejala alergi dapat kambuh berulang, bahkan setelah bertahun-tahun tidak muncul.
Pada kenyataannya, alergi merupakan kondisi yang melibatkan
sistem kekebalan tubuh
. Ketika tubuh menganggap zat yang sebenarnya tidak berbahaya sebagai ancaman, sistem imun akan memicu reaksi yang menyebabkan bersin, gatal, ruam, hidung tersumbat, hingga sesak napas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah alergi bisa sembuh?
Mengutip berbagai sumber, hingga saat ini belum ada pengobatan yang benar-benar dapat menyembuhkan alergi secara permanen. Namun, bukan berarti penderita alergi harus terus hidup dengan gejala yang mengganggu.
Beberapa jenis alergi, terutama alergi makanan yang muncul pada masa kanak-kanak, seperti susu, telur, gandum, atau kedelai, dapat menghilang seiring bertambahnya usia. Sebaliknya, alergi yang muncul saat dewasa, alergi obat, atau alergi saluran pernapasan umumnya bersifat jangka panjang.
Meski demikian, tingkat keparahan alergi dapat berubah. Pada sebagian orang, gejalanya menjadi lebih ringan seiring waktu, sedangkan pada yang lain tetap memerlukan penanganan agar tidak sering kambuh.
Mengapa alergi bisa terjadi?
Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali zat tertentu sebagai sesuatu yang berbahaya. Zat pemicu tersebut disebut alergen, misalnya serbuk sari, tungau debu, bulu hewan, makanan tertentu, obat-obatan, atau sengatan serangga.
Saat tubuh terpapar alergen, sistem imun akan menghasilkan antibodi yang memicu pelepasan histamin. Zat inilah yang menyebabkan munculnya berbagai gejala khas alergi, seperti gatal, bersin, mata berair, hingga pembengkakan.
Meskipun belum dapat disembuhkan sepenuhnya, gejala alergi umumnya dapat dikontrol dengan pengobatan yang tepat. Antihistamin sering digunakan untuk meredakan bersin, hidung berair, mata gatal, maupun biduran.
Dokter juga dapat meresepkan kortikosteroid, dekongestan, atau obat lain sesuai jenis alergi yang dialami. Pada kasus tertentu, imunoterapi dapat menjadi pilihan untuk membantu tubuh menjadi lebih toleran terhadap alergen melalui paparan bertahap dalam dosis kecil.
Imunoterapi bukanlah obat yang menghilangkan alergi, tetapi terapi ini terbukti dapat mengurangi sensitivitas tubuh terhadap alergen. Alhasil, gejala menjadi lebih ringan pada sebagian pasien.
Cara mengurangi risiko alergi kambuh
Menurut
Medical News Today
, langkah paling penting adalah mengenali dan menghindari pemicu alergi. Jika penyebabnya tungau debu, misalnya, menjaga kebersihan rumah dan rutin mencuci seprai dapat membantu mengurangi paparan.
Selain itu, konsultasikan dengan dokter apabila gejala sering kambuh atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar penderita alergi tetap dapat menjalani kehidupan yang nyaman dan produktif.
Itu dia jawaban dari pertanyaan apakah alergi bisa sembuh. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda.
(han/rti)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: El Nino Super Diperkirakan Picu Kerugian Ratusan Triliun di Afrika
Baca lagi: Shakira Pamer Foto Bareng BTS di Backstage Final Piala Dunia
Baca lagi: BMKG Beber Daftar 7 Wilayah Berpotensi Hujan Lebat Hari Ini




One Response
Wah, penjelasan yang luar biasa informatif. Sangat mencerahkan pikiran saya mengenai topik ini. Bagi yang sedang mencari bacaan pendukung, silakan kunjungi https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297307881_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320054532_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320744417_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296976769_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297083647_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320539442_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297598718_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320230849_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297380767_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320010038_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297151729_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320194285_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296903891_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297337906_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296992091_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297605001_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320631288_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320076777_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297630108_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320058765_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296933778_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320052466_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296985672_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297490337_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297635282_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320505738_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297519019_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297595842_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320371849_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297121448_htm