
Jakarta, cache-lefilm Indonesia
—
Jika dulu desainer
Tamara Ralph
selalu berdiri berdampingan dengan Michael Russo,
partner
-nya dalam
rumah mode
Ralph & Russo. Kini, ia percaya diri berdiri sendiri, membawa visi bisnis dan kreatifnya.
Masih segar dalam ingatan, sebuah momen pada Januari 2014 lalu. Kala itu, Ralph & Russo diundang oleh Federation de la Haute Couture et de la Mode (FHCM), badan yang menaungi industri mode Prancis, untuk memamerkan koleksinya. Sebuah pencapaian yang belum pernah diraih rumah mode Inggris mana pun dalam seratus tahun terakhir.
“Kami benar-benar senang bukan main. Ini adalah kehormatan besar bisa diakui oleh Syndicale,” ujar Tamara Ralph kala itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah mode Ralph & Russo, yang ia dirikan bersama Michael Russo, berkembang sangat pesat. Rumah mode itu bahkan pernah mengalami pertumbuhan hingga 400 persen. Sayang, rumah mode harus tutup pada 2021 lalu.
Siapa sangka, lebih dari satu dekade sejak hadirnya di Paris couture, perempuan yang merupakan setengah dari Ralph & Russo, akan berdiri sendirian, tanpa mitra bisnis, tanpa nama gabungan, memimpin rumah mode dengan namanya sendiri terpampang di pintu atelier: Tamara Ralph Couture.
Dari Ralph & Russo menuju namanya sendiri
Fesyen, bagi Tamara, bukan pilihan karier, melainkan warisan. Ia tumbuh besar di tengah keluarga yang sebagian besarnya berkecimpung di dunia mode.
“Mode selalu ada di hati dan di darah saya,” ujar Tamara saat wawancara bersama
cache-lefilmIndonesia.com
, medio Juli lalu.
Ia membesarkan Ralph & Russo menjadi rumah mode mewah kelas dunia bersama Michael Russo. Namun, kini ia mengambil kendali penuh, bukan hanya atas visi kreatif, tapi juga arah bisnisnya.
“Saya memutuskan untuk berdiri sendiri,” katanya, dengan nada tegas.
Uniknya, keputusan itu tidak lahir dari kepahitan, melainkan dari keinginan untuk lebih utuh mengarahkan rumah mode yang ia bangun. Konsep ini jarang terjadi di dunia couture, di mana biasanya ada pembagian tegas antara ‘otak kreatif’ dan ‘otak bisnis’.
Tamara memilih jalan yang lebih sulit, yakni dengan menjadi keduanya sekaligus.
“Ini memang menantang. Tapi, saya suka tantangan,” ujarnya.
DNA yang tak terikat dengan jenama
Yang menarik, siapa pun yang mengikuti perjalanan Tamara sejak pertunjukan pertamanya di Place Vendôme tahun 2014 akan mengenali satu benang merah yang tak pernah putus, siapa pun nama yang tertera di label kreasinya. Tamara menyebutnya sebagai ‘rasa feminitas yang mengalir secara alami’.
“Orang-orang selalu bilang saya bisa menyeimbangkan antara
timelessness
dan modernitas, keanggunan, dengan sedikit sentuhan sensualitas,” katanya.
Ciri khasnya yang paling dikenal adalah
corsetry
– teknik pembuatan korset – yang menjadi fondasi setiap gaunnya.
Ketelitiannya juga nyaris obsesif. Ia bercerita bagaimana kepala
atelier
-nya bisa menebak dari seberang ruangan bahwa ada yang salah hanya dari cara Tamara menunjuk.
“Ini salah dua milimeter,” katanya suatu kali.
Prediksi itu ternyata benar. Setelah diukur, ukurannya memang meleset dua milimeter.
Kisah semacam ini mengingatkan pada filosofi Cristóbal Balenciaga yang pernah menegaskan bahwa bahu dan pinggang, yang menjadi fondasi konstruksi garmen, harus benar-benar presisi.
Bagi Tamara, fondasi itu adalah korset, sebuah pelajaran yang ia warisi langsung dari neneknya, seorang
couturière
, yang mengajarinya teknik menjahit sejak kecil sebelum mengizinkannya menyentuh sketsa.
Yang membuat sikap estetiknya semakin menarik adalah keteguhannya di tengah arus zaman yang justru bergerak ke arah berlawanan. Saat sebagian besar dunia mode, termasuk couture, merayakan disrupsi dan eksperimen konseptual, Tamara memilih tetap setia pada keanggunan, glamor, dan feminitas.
Sepintas, cara Tamara terkesan klasik atau bahkan ‘cari aman’. Namun, ia tak ragu sedikit pun.
“Nilai-nilai itu akan selalu relevan,
kan
?” katanya.
“Karena bagi saya, nilai-nilai itu abadi, dan itu tidak akan pernah pudar. [Industri fesyen] punya banyak tren, tapi pada akhirnya inilah visi saya,” jelasnya menambahkan.
Toh
, hingga saat ini memang ada segmen klien yang justru mencari sesuatu yang klasik.
“Keanggunan tidak akan pernah ketinggalan zaman,” tegasnya.
Tamara memilih untuk tidak mengejar tren, melainkan menegaskan kembali sesuatu yang menurutnya tidak pernah benar-benar usang: perempuan yang ingin merasa cantik, anggun, dan percaya diri.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Inspirasi dari segala penjuru
Satu hal yang membuat Tamara Ralph sulit ditebak adalah sumber inspirasinya. Koleksi pertamanya di Paris pada 2014 lahir dari sebuah buku foto karya Lillian Bassman yang diberikan oleh seorang teman. Siluet tegas dan dramatis era 1940-50-an yang, katanya, mustahil untuk diabaikan.
Setahun berikutnya, koleksi Fall/Winter tahun 2015 Ralph & Russo membawa gaung novel klasik Rusia karya Nikolai Chernyshevsky. Dan masih banyak lagi inspirasi yang digaungkan Tamara sebelumnya.
“Saya hanya merasakannya,” ujar Tamara. Inspirasi itu selalu datang kapan saja.
“Anda bisa sedang berjalan-jalan, lalu tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala,” ujarnya.
Ketika ide mampet, resepnya sederhana: bernapas dalam-dalam, memejamkan mata, berbaring. Lalu, biarkan gagasan untuk bisa mengalir kembali.
Atelier: Keluarga yang tak pernah berpisah
Satu hal yang paling menyentuh dari perjalanan Tamara adalah kesetiaan para pengrajin, ahli bordir, pembuat pola, dan penjahit.
Atelier
yang ia dirikan bertahun-tahun lalu, dimulai dari satu orang yang ia latih langsung dengan teknik-teknik warisan neneknya, kini menjadi tim yang telah bekerja bersamanya selama 12 hingga 15 tahun.
Para
petit mains
(atau tangan-tangan kecil, istilah bagi para pengrajin di
atelier couture
) ikut pindah ketika ia mendirikan rumah mode barunya.
“Cukup dengan sketsa kasar, mereka sudah tahu persis bagaimana hasil akhirnya,” katanya. “[Pemahaman] itu tak ternilai harganya.”
Meski Maison Tamara Ralph kini berbasis di Paris, atelier utamanya tetap berada di London, tempat ‘keluarga’ pengrajinnya berasal.
“Saya mempertahankannya di sana karena semua pengrajin tersayang saya, keluarga saya, berbasis di sana,” katanya.
Couture di abad ke-21
Di zaman visual, di mana segala sesuatu, termasuk gaun
couture
seharga rumah, bisa dinikmati dalam hitungan detik lewat layar ponsel, apakah
couture
masih bicara soal keterampilan tangan, atau sudah bergeser perannya secara kultural?
Bagi Tamara, jawabannya tidak bercabang.
”
Couture
akan selalu memiliki inti, berupa
craftsmanship
dan
artistry
yang menyatu,” katanya tegas.
“Itu selalu menjadi fondasi
couture
, dan alasan mengapa rumah-rumah mode ini dirayakan, karena keahlian, kreativitas, dan seni mereka.”
Ia tak menampik adanya perubahan dalam lanskap industru fesyen. Namun, ia melihat
couture
justru berkembang, seiring industri kemewahan yang bergeser dari kemewahan massal menuju permintaan akan kustomisasi, eksklusivitas, dan keunikan.
Yang paling menarik dari pengamatannya adalah soal siapa yang kini membeli
couture
. Bukan lagi semata klien lama yang mewarisi kebiasaan berbusana keluarga mereka, melainkan generasi baru yang datang dengan alasan berbeda.
“Mereka menghargai bukan hanya nilai artistik dan
craftsmanship
-nya, tapi juga aspek keberlanjutannya, bahwa mereka membeli sesuatu yang akan bertahan selamanya,” ujar Tamara.
Sebuah gaun
couture
, dalam logika ini, bukan produk sekali pakai untuk satu unggahan media sosial, melainkan investasi jangka panjang. Di tengah dunia yang serba instan, justru eksklusivitas menjadi daya tarik
couture
yang paling dicari.
Generasi muda yang kini antre untuk memesan gaun
couture
pertama mereka, menurut Tamara, memang sudah memahami dan menerima bahwa menunggu adalah bagian dari kemewahan itu sendiri.
Klien-kliennya pun lintas generasi dan lintas benua, mulai dari bayi berusia enam bulan hingga dewasa. Angelina Jolie saat menerima penghargaan kehormatan dari mendiang Ratu Elizabeth II pada 2014 lalu dan Jennifer Lopez yang hadir di Paris bulan Juli kemarin menjadi bukti nyata bahwa argumennya soal keabadian bukan sekadar retorika pemasaran.
Inilah alasan terbesarnya mendirikan lagi rumah mode dengan namanya sendiri. Ia ingin membangun sebuah rumah mode yang sepenuhnya mencerminkan dirinya.
Setiap kolaborasi, misalnya dengan Audemars Piguet di tahun 2024, dipilih bukan semata karena nama besar, melainkan karena memiliki nilai yang sama mengenai kualitas, eksklusivitas, dan penghormatan terhadap kerajinan tangan.
“Saya tidak akan pernah mengorbankan kualitas.”
Kalimat yang terdengar nyaris seperti manifesto.
Di tengah industri yang semakin cepat, Tamara Ralph justru membangun rumah mode yang percaya pada kemewahan berdasar pada hal-hal yang jauh lebih tua daripada media sosial: waktu, keterampilan, kesabaran, dan keindahan.
Mungkin itulah sebabnya, meskipun nama di fasad maison telah berubah, bahasa visual Tamara Ralph tetap terasa akrab bagi siapa pun yang telah mengikutinya sejak satu dekade lalu. Karena pada akhirnya,
couture
bukan sekadar tentang gaun.
”
Couture
adalah hati dan jiwa dari seluruh karya dan bisnis saya,” tutupnya.
Anggun Tamara Ralph Berdiri Sendiri di Balik Korset dan Couture
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: YouTuber Bigmo Promosi Vape Bareng Anak-anak, Komdigi Tegur YouTube
Baca lagi: Jaecoo Buka Ruang Personalisasi SUV Listrik J5 EV
Baca lagi: Prabowo Sambut PM Thailand Anutin di Istana Merdeka



